{{ date }}
{{ time }}
Sudah SHOLAT kah Anda?

Puasa Muharrom, Tasua dan Asyuro Lengkap Arab Latin dan Arti serta Keutamaannya

Daftar Isi
Bacaan Niat Puasa Muharrom, Puasa Tasu'a dan Puasa Asyura Lengkap Keutamaannya
Bacaan Niat Puasa Muharrom, Puasa Tasu'a dan Puasa Asyura Lengkap Keutamaannya

Puasa Muharrom adalah puasa yang dilakukan di bulan Muharrom, bulan pertama dalam kalender Hijriyah. Hukum puasa Muharrom adalah sunnah, bahkan lebih utama dari puasa bulan Sya’ban yang paling sering dipuasai oleh Nabi Muhammad SAW. Beliau bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعدَ الفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ. (رواه مسلم)

“Diriwayatkan dari Abu Huroiroh ra, ia berkata: ‘Rosululloh SAW bersabda: ‘Puasa yang paling utama setelah Romadhon adalah puasa pada bulan Alloh, Muharrom, dan sholat yang paling utama setelah sholat fardhu adalah sholat malam.” (HR Muslim).

Imam an-Nawawi menjelaskan, hadits shohih ini merupakan dalil sharih atau sangat jelas yang menunjukkan kesimpulan hukum bahwa bulan yang paling utama untuk berpuasa setelah Romadhon adalah Muharrom. Selain itu, meskipun Nabi Muhammad saw memang lebih banyak berpuasa di bulan Sya’ban, namun hal itu tidak menafikan keutamaan Muharrom dari pada Sya’ban. Sebab bisa jadi Nabi saw baru diberi tahu keutamaan Muharrom yang melebihi Sya’ban di masa-masa akhir hidupnya, atau bisa jadi Nabi SAW sudah mengetahuinya namun tidak sempat memperbanyak puasa di bulan Muharrom karena berbagai halangan, seperti sakit, bepergian, dan semisalnya (Yahya bin Syaraf an-Nawawi, al-Minhaj Syarhun Shohih Muslim bin al-Hajjaj, [Bairut, Darul Ihya-it Turotsil ‘Arobi, 1392 H], cetakan kedua, juz VIII, h. 55).

Dari sini diketahui, dalam bulan Muharrom semakin banyak berpuasa maka semakin baik. Bisa puasa sehari, dua hari, tiga hari, atau bahkan sepanjang Muharrom apabila memang tidak memberatkan. Di luar itu, hari-hari bulan Muharrom yang lebih utama untuk dipuasai berdasarkan hadits dan penjelasan ulama adalah 10 hari pertama Muharrom—termasuk di dalamnya hari Tasu’a (9 Muharrom), hari ‘Asyuro (10 Muharrom)—dan tanggal 11 Muharrom. (An-Nawawi, al-Minhaj Syarhu Shohih, juz VIII, h. 55; Ibnu Hajar al-Haitami, al-Fatawal Kubrol Fiqhiyyah, [Darul Fikr], juz II, h. 54; Muhammad bin Umar Nawawi al-Jawi, Nihayatuz Zain fi Irsyadil Mubtadi’in, [Bairut, Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, cetakan pertama: 1422 H/2002 M], h. 192; dan Abdulloh Abdirrohman Bafadhol al-Hadlromi, al-Muqoddimatul Hadlromiyyah, [Damaskus, ad-Darul Muttahidah: 1413 H], h. 139).


Mengapa Puasa Muharrom Penting?

Hikmah puasa Muharrom sebagai puasa yang paling utama setelah Romadhon sangat banyak. Di antaranya, karena Muharrom merupakan awal tahun Hijriyah maka sangat pantas dibuka dengan puasa yang merupakan amal paling utama. Imam al-Qurthubi mengatakan:

إِنَّمَا كَانَ صَوْمُ الْمُحَرَّمِ أَفْضَلَ الصِّيَامِ مِنْ أَجْلِ أَنَّهُ أَوَّلَ السَّنَةِ الْمُسْتَأْنَفَةِ، فَكَانَ اسْتِفْتَاحُهَا بِالصَّوْمِ الَّذِي هُوَ أَفْضَلُ الْأَعْمَالِ

“Puasa Muharrom menjadi puasa yang paling utama karena Muharrom merupakan awal tahun baru, maka pembukaannya adalah dengan puasa yang merupakan amal paling utama.”

(Jalaluddin as-Suyuthi, ad-Dibaj ‘ala Muslim, [Arab Saudi, Darubnu ‘Affan, cetakan pertama: 1416 H/1996 M], juz III, h. 251).

Baca juga: Bacaan Dzikir yang sangat Dianjurkan pada Hari Asyuro serta Sejarah Peristiwa Hari Asyuro


Keutamaan Puasa Muharrom

Keutamaan puasa Muharram sangat banyak, yang di antaranya adalah lima keutamaan sebagaimana berikut:

  1. Menjadi Puasa Paling Utama

    Puasa Asyuro menjadi puasa yang paling utama, sebagaimana hadits riwayat Imam Muslim dalam awal artikel ini.

  2. Puasa di Bulan Mulia

    Termasuk dalam keutamaan berpuasa dalam bulan-bulan mulia atau al-asyhurul hurum. Diriwayatkan:

    عَنِ الْبَاهِلِيِّ أَتَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَنَا الرَّجُلُ الَّذِي أَتَيْتُكَ عَامَ الْأَوَّلِ. قَالَ: فَمَا لِي أَرَى جِسْمَكَ نَاحِلًا؟ قَالَ يَا رَسُولَ اللهِ مَا أَكَلْتُ طَعَامًا بِالنَّهَارِ، مَا أَكَلْتُهُ إِلَّا بِاللَّيْلِ. قَالَ: مَنْ أَمَرَك أَنْ تُعَذِّبَ نَفْسَكَ؟ قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ إِنِّي أَقْوَى. قَالَ: صُمْ شَهْرَ الصَّبْرِ وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ بَعْدَهُ وَصُمِ الْأَشْهُرَ الْحُرُمَ. (رَوَاهُ دَاوُدَ وَابْنِ مَاجَهْ وَغَيْرِهِمَا)

    “Diriwayatkan dari al-Bahili: ‘Aku mendatangi Rosululloh SAW, lalu berkata: ‘Wahai Rosululloh, Aku adalah lelaki yang pernah mendatangimu pada tahun pertama?’ Rosululloh SAW bersabda: ‘Dulu aku tidak melihat tubuhmu lemah?’ Al-Bahili menjawab: ‘Wahai Rosululloh, Aku tidak mengonsumsi makanan di siang hari, aku tidak memakannya kecuali di waktu malam.’ Rosululloh SAW bersabda: ‘Siapa yang menyuruhmu menyiksa dirimu?’ Aku menjawab: ‘Wahai Rosululloh, sungguh Aku mampu berpuasa (terus-menerus).’ Rosululloh SAW bersabda: ‘Puasalah bulan Sabar (Romadhon) dan tiga hari setelahnya, dan puasalah pada bulan-bulan mulia’.” (HR Abu Dawud, Ibnu Majah dan selainnya).

  3. Puasa 1 Hari Sama Dengan Puasa Sebulan

    Puasa sehari dalam bulan Muharrrom pahalanya sama dengan puasa 30 hari. Diriwayatkan:

    عَنِ ابْنِ عَبَّاس رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ صَامَ يَوْمَ عَرَفَةَ كَاَن لَهُ كَفَارَةً سَنَتَيْنِ، وَمَنْ صَامَ يَوْمًا مِنَ الْمُحَرَّمِ فَلَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ ثَلَاثُونَ يَوْمًا. (رواه الطبراني في الصغير وهو غريب وإسناده لا بأس به)

    “Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, ia berkata: ‘Rosululloh SAW bersabda: ‘Orang yang berpuasa pada hari Arofah maka menjadi pelebur dosa dua tahun, dan orang yang berpuasa sehari dari bulan Muharrom maka baginya sebab puasa setiap sehari pahala 30 hari puasa’.” (HR at-Thobroni dalam al-Mu’jamus Shoghir. Ini hadits ghorib namun sanadnya tidak bermasalah).

    (Abdul Adhim bin Abdul Qowi al-Mundziri, at-Targhibu wat Tarhibu minal Haditsisy Syarif, [Beirut, Darul Kutubil ‘Ilmiyyah], juz II, h. 70).

  4. Menjadi Pelebur Dosa yang Telah Lalu

    Keutamaan Keempat, khusus puasa hari Asyuro yaitu pada tanggal 10 Muharrom, maka akan menjadi pelebur dosa setahun yang telah lewat. Diriwayatkan:

    عَنْ أَبي قَتَادَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صِيامِ يَوْمِ عَاشُوراءَ، فَقَالَ: يُكَفِّرُ السَّنَةَ المَاضِيَةَ. (رواه مسلم)

    “Diriwayatkan dari Abu Qotadah ra: sungguh Rosululloh SAW bersabda pernah ditanya tentang keutamaan puasa hari Asyuro, lalu beliau menjawab: ‘Puasa Asyuro melebur dosa setahun yang telah lewat’.” (HR Muslim).

  5. Menjadi Pembeda dengan Umat Yahudi

    Khusus puasa Tasu’a pada 9 Muharrom dan puasa 11 Muharrom yang dijadikan pelengkap puasa Asyuro pada 10 Muharrom, menjadi pembeda umat Islam dengan umat Yahudi yang sama-sama berpuasa di hari Asyuro. Diriwayatkan:

    عَنِ ابْنِ عَبَّاس رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا مَرْفُوعًا: صُومُوا يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَخَالِفُوا الْيَهُودَ، صُومُوا يَوْمًا قَبْلَهُ أَوْ يَوْمًا بَعْدَهُ (رواه أحمد)

    “Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra dengan status marfu (Rosululloh bersabda): ‘Puasalah kalian pada hari Asyuro dan bedakan dengan kaum Yahudi, puasalah kalian sehari sebelum atau sesudahnya’.” (HR Ahmad).

    Di akhir hayat Rosulloh SAW memang suka membedakan ritual umat Islam dengan umat Yahudi. Dalam konteks ini al-Hafidh Ibnu Hajar mengatakan maka tingkatan puasa Asyuro itu ada tiga:

    • satu, puasa hari Asyuro saja.
    • Dua, puasa Asyuro disertai puasa Tasu’a.
    • Tiga, puasa Asyuro disertai puasa Tasu’a dan puasa 11 Muharrom.

    (Ahmad bin Ali bin Hajar Al-‘Asqolani, Fathul Bari Syarhu Shohihil Bukhori, [Bairut, Darul Ma’rifah: 1379 H], juz IV, h. 245-246).


Tata Cara Puasa Muharrom

Puasa Muharrom secara teknis dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Niat dalam Hati

    Niat puasa Muharrom, baik secara umum maupun khusus puasa 10 hari awal Muharrom, puasa Tasu’a, puasa Asyuro, dan puasa 11 Muharrom sebagaimana puasa sunnah lainnya dapat dilakukan dengan niat puasa mutlak, seperti: “Saya niat puasa,” atau dengan cara yang lebih baik sebagaimana berikut:

    Niat Puasa Muharrom

    Berikut ini bacaan niat Puasa Muharrom lengkap arab latin dan artinya:

    نَوَيْتُ صَوْمَ الْمُحَرَّمِ لِلّٰهِ تَعَالَى

    Nawaitu shoumal Muharromi lilaahi tangaalaa.

    “Saya niat puasa Muharrom karena Alloh ta’ala.”

    Niat Puasa Tasu'a

    Berikut ini bacaan Niat Puasa Tasu’a secara lengkap arab latin dan artinya:

    نَوَيْتُ صَوْمَ تَاسُوعَاءَ لِلّٰهِ تَعَالَى

    Nawaitu shouma Taasuungaa-a lilaahi tangaalaa.

    “Saya niat puasa Tasu’a karena Alloh ta’ala.”

    Niat Puasa Asyuro

    Berikut ini bacaan Niat Puasa Asyuro secara lengkap arab latin dan artinya:

    نَوَيْتُ صَوْمَ عَاشُورَاءَ لِلّٰهِ تَعَالَى

    Nawaitu shouma Ngaasyuuroo-a lilaahi tangaalaa.

    “Saya niat puasa Asyuro karena Alloh ta’ala.”

    Selain niat di dalam hati juga disunnahkan mengucapkannya dengan lisan. Sebagaimana puasa sunnah lainnya, niat puasa Muharrom dapat dilakukan sejak malam hari hingga siang sebelum masuk waktu zawal (saat matahari tergelincir ke barat), dengan syarat belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar atau sejak masuk waktu subuh. (Al-Malibari, Fathul Mu’in, juz II, h. 223).

  2. Makan Sahur

    Lebih utama makan sahur dilakukan menjelang masuk waktu subuh sebelum imsak. Namun seperti puasa sunnah lainnya, makan sahur tidak diwajibkan seperti Puasa Fardhu Bulan Romadhon. Dengan kata lain, apabila tidak makan sahur, maka tetap sah puasanya.

  3. Menahan Diri

    Melaksanakan puasa baik puasa wajib maupun sunnah maka harus menahan diri dari segala hal yang membatalkan, seperti makan, minum dan semisalnya.

  4. Menjaga Diri

    Lebih menjaga diri dari hal-hal yang membatalkan pahala puasa seperti berkata kotor, menggunjing orang, dan segala perbuatan dosa.

    Rosululloh SAW bersabda:

    كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعِ وَالْعَطَشِ (رواه النسائي وابن ماجه من حديث أبي هريرة)

    “Banyak orang yang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali rasa lapar dan kehausan.”

    (HR an-Nasa’i dan Ibnu Majah dari riwayat hadits Abu Huroiroh ra). (Abul Fadl al-‘Iroqi, al-Mughni ‘an Hamlil Asfar, [Riyad: Maktabah Thobariyyah, 1414 H/1995 M], juz I, h. 186).

  5. Segera Berbuka

    Menyegerakan berbuka puasa saat tiba waktu maghrib. (Ibrohim al-Bajuri, Hasyiyyatul Bajuri ‘ala Ibnil Qosim al-Ghozi, [Semarang, Thoha Putra], juz I, h. 292-294).


Demikian artikel yang dapat kami tuliskan mengenai Puasa Muharrom, Puasa Sunnah Tasu'a, Puasa Sunnah Asyuro beserta bacaan Niat lengkap arab latin dan artinya, serta keutamaan puasa muharrom. Semoga bermanfaat.

Wallohu A'lam.

Terima kasih telah membaca artikel kami yang berjudul: Puasa Muharrom, Tasua dan Asyuro Lengkap Arab Latin dan Arti serta Keutamaannya, jangan lupa + IKUTI website kami dan silahkan bagikan artikel ini jika menurut Anda bermanfaat. Simak artikel kami lainnya di Google News.

Posting Komentar